Senin, 14 Mei 2012

TREND&ISSUE KEPERAWATAN (HOSPIC CARE)


Pengertian
Perawatan  hospis dan home care diberikan oleh tim multi disiplin kesehatan dimana seorang perawat menjadi koordinatornya.  Para klien pengidap kanker yang dirawat di hospis atau home care masih tetap menjadi populasi berresiko dimana kebutuhan akan kesehatannya memerlukan perhatian jangka panjang (Ferrel & Dow, 1997).
Hospice adalah perawatan pasien terminal (stadium akhir) dimana pengobatan terhadap penyakitnya tidak diperlukanlagi (dokter sudah angkat tangan). Perawatan ini bertujuan meringankan penderitaan dan rasa tidak nyaman dari pasien, berlandaskan pada aspek bio-psiko-spiritual (HHC-YKI).

Hospice home care merupakan pelayanan/perawatan pasien kanker terminal (stadium akhir) yang dilakukan di rumah pasien setelah dirawat di rumah sakit dan kembali keruma
Tujuan
Tiga tujuan utama dari pelayanan hospice home care pada paisen, diantaranya:
  1. Meringankan pasien dari penderitaannya, baik fisik (misalnya rasa nyeri, mual, muntah, dll), maupun psikis (sedih, marah, khawatir, dll) yang berhubungan dengan penyakitnya.
  2. Memberikan dukungan moril, spiritual maupun pelatihan praktis dalam hal perawatan pasien bagi keluarga pasien dan perawat.
  3. Memberikan dukungan moril bagi keluarga pasien selama masa duka cita.
 
Pelayanan Hospice Home Care
Hospice care juga merupakan pelayanan medis yang diberikan kepada pasien di rumah sakit, pelayanan yang diberikan adalah pelayanan medis secara menyeluruh dan memberikan dukungan sosial, emosional, spiritual dengan maksud untuk meringankan rasa sakit pada pasien dan keluarga.
Tujuan yang ingin dicapai dari hospice care adalah perawatan paliatif (manajeman kenyamanan) bukan hanya dari pelayanan kuratif (terapi) saja. Kelebihan dari layanan hospice care ini dapat diberikan dirumah pasien, hanya saja pasien terkadang lebih memilih untuk melakukkan rawat jalan, yang mana menawarkan bantuan dan istirahat sebagai pemberian pelayanan dasar. 
Perawatan  hospis dan home care diberikan oleh tim multi disiplin kesehatan dimana seorang perawat menjadi koordinatornya.  Para klien yang dirawat di hospis atau home care masih tetap menjadi populasi berresiko dimana kebutuhan akan kesehatannya memerlukan perhatian jangka panjang (Ferrel & Dow, 1997).
Perawatan hospis yang dilaksanakan di rumah atau hospice home care adalah pelayanan kesehatan kepada klien yang pada umumnya bersifat paliatif dan berfokus pada kesejahteraan klien. Pendekatan holistik merupakan aspek yang paling penting dalam pelayanan ini dimana tiga komponen individual yang terdiri dari tubuh, jiwa, dan semangat hidup saling mendukung. Oleh karena itu, jika salah satu komponen tubuh terganggu maka akan terjadi ketidak harmonisan pada dua komponen yang lain.
Asuhan fisik adalah pelayanan yang diberikan untuk mempertahankan kesejahteraan fisik. Rasa nyeri, status cairan dan nutrisi merupakan dimensi penting dalam asuhan fisik dimana klien pengidap kanker sering mengalami gejala kaheksia, dan xerostomia sebagai akibat ketidak seimbangan status cairan dan nutrisi (Brant, 1998). Asuhan psikososial termasuk pelayanan untuk mempertahankan keseimbangan hubungan dan komunikasi dengan keluarga. Selain itu, terjadinya depresi sebagai manifestasi ketidak seimbangan psikososial termasuk dalam asuhan psikososial.
Perawatan di hospis atau home care bertujuan untuk mempertahankan konsep paripurna dan individualistik meliputi perawatan fisiologis, psikologis, sosial, kultural, dan spiritual. Jenis pelayanan ini diharapkan dapat mempertahankan pola hidup klien sebelumnya sehingga dapat mempertahankan kondisi kualitas hidup klien sesuai dengan harapannya (McMillan & Weitzner,2000). Pengukuran kualitas hidup diukur berdasarkan kepuasan klien terhadap domain kehidupan meliputi fisik, fungsional, sosial, spiritual, psikologis, dan ekonomi (Cohen et al, 1997).

 Perawatan Paliatif
Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Sedangkan Pengobatan paliatif adalah pengobatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita seoptimal mungkin dengan kondisi kanker yang dia derita. Umumnya lebih ditujukan untuk mengatasi gejala penyakitnya dan bukan lagi mengatasi penyebabnya.
Perawatan paliatif merupakan metode yang ampuh dalam membantu pasien lepas dari penderitaannya, baik nyeri berkepanjangan ataupun keluhan lain. Kondisi ini akan membantu meningkatkan kualitas hidup pasien dan juga keluarganya
 Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya.
Tujuan utama perawatan paliatif bukan untuk menyembuhkan penyakit. Dan yang ditangani bukan hanya penderita, tetapi juga keluarganya.
Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker, bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifat kronis.
Perawatan paliatif ini bisa mengeksplorasi individu pasien dan keluarganya bagaimana memberikan perhatian khusus terhadap penderita, penanggulangannya serta kesiapan untuk menghadapi kematian.
Perawatan paliatif dititikberatkan pada pengendalian gejala dan keluhan, serta bukan terhadap penyakit utamanya karena penyakit utamanya tidak dapat disembuhkan. Dengan begitu pasien terbebas dari penderitaan akibat keluhan dan bisa menjalani akhir hidupnya dengan nyaman.
Dan harus diketahui, pengobatan paliatif seperti ini tidak ada batas waktu sampai kapan harus dirawat di rumah sakit, karena hanya mengobati gejala penyakit saja sampai menunggu panggilan Allah. Jangka waktu perawatan bisa sangat lama, dan tentunya memerlukan biaya sangat besar baik untuk ongkos penginapan, obat-obatan, tenaga medis dan paramedis. Selain itu keluarga juga akan sangat repot, karena harus menunggu siang maupun malam, sehingga harus meninggalkan rumah, keluarga dan pekerjaan, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk transport dan lain-lain.

Memang benar, untuk mengatasi keluhan-keluhan fisik yang dirasakan penderita seperti rasa nyeri, mual-mual, perdarahan, borok, sakit kepala dan lain-lain memerlukan tenaga dokter dan paramedis. Namun keluhan lain seperti rasa sepi, rasa kesendirian, putus asa, rasa takut, cemas, was was, rasa ingin dicintai, rasa ingin disayangi, rasa aman, kebutuhan spiritual, support mental, support sosial, sangat memerlukan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya yang dengan tulus hati mau mendengar, memberikan uluran kasih sayang dan perhatian yang sangat diperlukan penderita mendekati saat-saat terakhirnya.
Sementara Prof Dr I W Suardana, SpTHT(K) menuturkan berbagai keluhan biasanya dirasakan oleh pasien perawatan paliatif ini.
Keluhan yang muncul seperti nyeri, gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, konstipasi), gangguan kulit (gatal, kering atau akibat berbaring terlalu lama), kelemahan umum, gangguan respirasi, kelemahan anggota gerak, gangguan saluran kemih dan juga merasa bingung.
Perawatan paliatif pasien diajak untuk lebih bisa menerima keadaannya sehingga masih bisa menjalani hidupnya meskipun umurnya tak lama lagi. Karena kebanyakan kualitas hidup pasien dengan penyakit tak bisa disembuhkan akan terus memburuk atau menurun jika harapan pasien tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Tugas dari tim paliatif adalah memodifikasi ekspektasi dari pasien, sehingga jarak antara harapan dan kenyataannya menjadi lebih dekat. Bisa dengan cara membangkitkan spirit untuk hidup, orientasi masa depan, keimanan bahkan tentang seksualitasnya.
Harapan selalu ada, tapi sebaiknya tidak memberikan harapan yang palsu karena harapan juga harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan. Untuk itu keluarga merupakan kunci makna hidup dalam perawatan paliatif.
Selain mengurangi gejala-gejala yang muncul, perawatan paliatif juga memberikan dukungan dalam hal spiritual dan psikososial. Perawatan ini bisa dimulai saat diagnosis diumumkan sampai akhir hayat dari si pasien.
Meski pasien telah meninggal dunia, perawatan paliatif tidak berhenti sampai di situ. Karena relawan paliatif  juga akan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang berduka.
Bagi seorang dokter, butuh empati yang besar dan ketrampilan khusus dalam melakukan Paliatif care. Penyampaian kabar buruk (ketika pasien tidak bisa sembuh dan harus dilakukan paliative care) pun harus ada etikanya. Jangan sampai ketika kita menyampaikan kabar buruk tersebut menimbulkan Stres mendalam bagi pasien maupun keluarganya yang berakibat semakin cepatnya proses kematian bagi pasien. Terkadang juga tindakan Euthanasia dilakukan jika tindakan Paliatif sudah dilakukan tapi pasien masih sangat menderita. Namun perlu dicatat, Tindakan Euthanasia tidak semudah itu dilakukan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan (permintaan pasien, permintaan keluarga, dasar hukum, adat istiadat setempat, agama dll).
Perawatan paliatif bukan hanya dapat dilakukan di rumah sakit saja, namun dapat juga dilakukan di luar rumah sakit yaitu di rumah penderita itu sendiri. Perawatan di rumah penderita sendiri ini disebut juga home care. Home care dapat dilaksanakan dengan standart pengobatan seperti di rumah sakit.

Untuk dapat melaksanakan perawatan di rumah ini, perlu kerjasama berbagai pihak yang akan berfungsi sebagai Tim Perawatan Paliatif Rumah, yaitu dokter dan perawat rumah sakit, dokter di wilayah setempat bisa dokter Puskesmas atau dokter keluarga, PKK setempat dan relawan yang ingin membantu dan dibekali pelatihan tertentu sesuai bidang minat yang sesuai baik bidang perawatan, dukungan spiritual maupun dukungan moril.

 Prinsip-prinsip Perawatan Paliatif
Prinsip-prinsip perawatan paliatif adalah sebagai berikut:
1.      Menghargai setiap kehidupan.
2.      Menganggap kematian sebagai proses yang normal.
3.      Tidak mempercepat atau menunda kematian.
4.      Menghargai keinginan pasien dalam mengambil keputusan.
5.      Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu.
6.      Mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, dan spiritual dalam perawatan pasien dan keluarga.
7.      Menghindari tindakan medis yang sia-sia.
8.      Memberikan dukungan yang diperlukan agar pasien tetap aktif sesuai dengan kondisinya sampai akhir hayat.
9.      Memberikan dukungan kepada keluarga dalam masa duka cita.
 Tempat Perawatan Paliatif
Tempat untuk melakukan perawatan paliatif beragam, seperti:
1.      Rumah sakit, untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan dengan pengawasan ketat, tindakan khusus atau memerlukan peralatan khusus.
2.      Puskesmas, untuk pasien yang melakukan rawat jalan.
3.      Rumah singgah atau panti (hospis), untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan.
4.      Rumah Pasien, untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan atau peralatan khusus, serta keterampilan perawatan bisa dilakukan oleh anggota keluarga.


  Perkembangan Perawatan Paliatif di Indonesia
Tanggal 6 Oktober seluruh masyarakat dunia memperingati World Hospice Palliative Care Day, Hari Perawatan Hospis dan Paliatif Sedunia. Mungkin peringatan ini tidak banyak yang tahu karena memang peringatannya tidak seheboh peringatan Hari AIDS Sedunia atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Walaupun demikian, tidak mengecilkan arti dari perjuangan  mereka yang bergelut dalam bidang perawatan paliatif.
Dulu perawatan ini hanya diberikan kepada pasien kanker yang secara medis sudah tidak dapat disembuhkan lagi, tetapi kini diberikan pada semua stadium kanker, bahkan juga pada penderita penyakit-penyakit lain yang mengancam kehidupan seperti HIV/AIDS dan berbagai kelainan yang bersifatkronis.
Di Indonesia perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 19 Februari 1992 di RS Dr. Soetomo (Surabaya), disusul RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta), RS Kanker Dharmais (Jakarta), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr. Sardjito (Yogyakarta), dan RS Sanglah (Denpasar).
Di RS Dr. Soetomo perawatan paliatif dilakukan oleh Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri. Pelayanan yang diberikan meliputi rawat jalan, rawat inap (konsultatif), rawat rumah, day care, dan respite care.
Daritahun 1992-2010 pelayanan perawatan paliatif baru ada di 6 ibukota besar yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, JawaTimur, Bali dan Sulawesi Selatan.
Perawatan paliatif kebanyakan terdapat di rumah sakit pemerintah seperti RS Hasan Sadikin Bandung, RSCM, RSK Dharmais, RSU Dr Soetomo Surabaya, RS Sanglah Bali, RS Dr Wahidin Sudirohusodo Makasardan RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
Betapa pentingnya perawatan paliatif untuk pasien pasien yang telah memasuki fase terminal dari penyakit yang diderita. Menteri kesehatan sampai perlu menerbitkan sebuah Kepmenker No. 812/Menkes/SK/VII/2007 yang isinya agar setiap rumah sakit menyediakan perawatan paliatif di masing masing rumah sakit untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Pelayanan kesehatan yang paripurna tidak hanya yang dilakukan di rumah sakit, tetapi juga meliputi perawatan pra-rumah sakit, selama di rumah sakit, dan purna rumah sakit. Tujuannya mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, yang tujuan utamanya mempertahankan kemampuan individu untuk mandiri secara optimal selama mungkin.
Pada kasus yang oleh tim dokter dinyatakan sulit sembuh atau tidak ada harapan lagi, bahkan mungkin hampir meninggal dunia atau yang dikenal pasien stadium terminal (PST), tentunya dibutuhkan pelayanan yang spesial. Di sinilah perawatan paliatif menjadi aspek penting pada pengobatan, khususnya bidang geriatri (masalah kesehatan pada lansia).
Lebih lanjut perawatan paliatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan pasien dan keluarganya menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang mengancam jiwa, dengan mencegah dan meringankan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian serta terapi dan masalah lain-fisik, psikososial, dan spiritual. “Dalam perawatan paliatif ini membutuhkan tim multidisiplin,” kata dokter dari Subbagian Geriatri, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, FK UGM/SMF Geriatri RSUP Dr. Sardjito tersebut.
Melihat pentingnya peran perawatan paliatif ini, Probosuseno berharap agar setiap rumah sakit (misalnya tipe B) memiliki semacam instalasi perawatan paliatif dan dipakai sebagai salah satu syarat penilaian akreditasi rumah sakit. Sementara itu, di lingkungan fakultas kedokteran, akper, sekolah tinggi keperawatan, SMK kesehatan, psikologi, gizi, dan farmasi juga diberikan materi terkait dengan perawatan paliatif. Dengan demikian, para calon civitas hospitalia mendapatkan paparan dini tentang perawatan paliatif tersebut.
Senada dengan itu, dr. Ali Agus Fauzi, PGD Pall Med dari Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas Nyeri RSU Dr. Soetomo-FK Unair Surabaya menjelaskan perawatan paliatif tidak saja untuk menyembuhkan penyakit. Selain penderita, yang ditangani juga pihak keluarga. Beberapa tempat yang memungkinkan untuk dilakukan perawatan paliatif adalah rumah sakit, puskesmas, rumah singgah (panti/hospis), dan rumah pasien.
Aplikasi perawatan paliatif di RSU Dr Soetomo meliputi perawatan paliatif rawat jalan (poliklinik), rawat inap, rawat rumah (home care), day care, dan respite care. Tata kerja organisasi perawatan paliatif ini bersifat koodinatif dan melibatkan semua unsur terkait dengan mengedepankan tim kerja yang kuat, membentuk jaringan yang luas, berinovasi tinggi, dan layanan sepenuh hati.
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM, Christantie Effendy, S.Kp., M.Kes.pada kesempatan tersebut mengangkat persoalan dan kebutuhan pasien kanker di Indonesia dan Belanda. Menurut Christantie, meskipun Indonesia dan Belanda sangat berbeda, pasien kanker pada kedua kelompok ini memiliki masalah fisik yang nyaris sama, dengan kelelahan dan nyeri di urutan atas.
Dari semua masalah yang dialami pasien, unmeet needs (kebutuhan yang tidak terpenuhi) di Indonesia lebih tinggi daripada di Belanda. Untuk prevalensi masalah pskikososial dan sosial di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan kelompok penelitian di Belanda. Perbedaan dalam budaya dan juga sistem kesehatan mungkin telah berkontribusi terhadap kondisi ini.
 Trend Penerapan Hospice care pada Penyakit Kanker
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang kesehatan telah menjadikan penyakit kanker tidak lagi merupakan penyakit fatal dan terlambat diobati namun telah menjadi penyakit kronis yang memiliki potensi untuk mengubah pola kehidupan para pengidapnya. Dengan perkembangan ini terjadi penurunan angka kematian yang merupakan hasil dari keberhasilan terapi kanker sehingga dapat memperpanjang hidup klien.
Namun demikian, keefektifan terapi ini hanya diukur dari hasil keluaran secara fisik seperti sembuh dari penyakit, kematian, angka kesakitan, dan angka kekambuhan. Oleh karena itu, pada dua dekade terakhir, tim kesehatan telah menyadari bahwa keberhasilan terapi harus dinilai juga dari pengalaman klien baik secara kualitatif maupun kuantitatif (King, et al, 1997).
Penurunan angka kematian akibat penyakit kanker dan sifat kronik dari penyakit ini telah menimbulkan kecenderungan banyak klien tidak dirawat di rumahsakit melainkan pada pelayanan hospis atau home care. Perawatan  hospis dan home care diberikan oleh tim multi disiplin kesehatan dimana seorang perawat menjadi koordinatornya.
Para klien pengidap kanker yang dirawat di hospis atau home care masih tetap menjadi populasi berresiko dimana kebutuhan akan kesehatannya memerlukan perhatian jangka panjang (Ferrel & Dow, 1997). Ironisnya, tidak banyak yang perduli dengan tingkat kualitas hidup mereka yang menghabiskan sisa hidupnya di hospis atau home care ini (Stetz, 1998).

Pada penderita kanker yang tidak mungkin tersembuhkan lagi, perawatan paliatif pada dasarnya adalah upaya untuk mempersiapkan awal kehidupan baru (akhirat) yang berkualitas. Tidak ada bedanya dengan perawatan kandungan yang dilakukan seorang calon ibu, yang sejak awal kehamilannya rutin memeriksakan diri untuk memastikan kesehatannya dan tumbuh kembang calon bayinya, agar dapat melewati proses kelahiran dengan sehat dan selamat, selanjutnya dalam kehidupan barunya sebagai manusia sibayi dapat tumbuh menjadi manusia yang sehat dan berkualitas.

Sedang bagi penderita kanker stadium dini, perawatan paliatif merupakan pendamping pengobatan medis. Meningkatnya kualitas kehidupan pasien karena perawatan paliatif diharapkan akan membantu proses penyembuhan kanker secara keseluruhan.

Kualitas hidup merupakan masalah yang penting dalam pengalaman para pengidap penyakit kanker yang telah berhasil mengendalikan penyakitnya dan memperpanjang masa hidup yang harus dilaluinya (Ersek, Ferrel, Dow, &Melancon, 1997).Masalah kualitas hidup bagi klien dengan penyakit kanker meliputi efek fisiologis, masalah keluarga dan sosial, pekerjaan atau aktifitas harian serta distres spiritual (Dow, Ferrel, Haberman, & Eaton, 1999).

Kualitas hidup juga dilihat dari berbagai aspek dalam tujuh kategoriya itu gejala fisik seperti gejala, dan nyeri; kemampuan fungsional seperti aktifitas; kesejahteraan keluarga; kesejahteraan emosi; kepuasan akan terapi meliputi masalah finansial; seksualitas dan keintiman termasuk citra tubuh; dan fungsisosial (Cella, 1998).

Di Indonesia, perawatan di hospis atau home care merupakan hal yang baru bagi klien pengidap kanker. Di Jakarta khususnya, pelayanan hospis telah diberikan pada klien pengidap kanker yang sedang menghadapi fase terminal namun masih menjadi suatu pengalaman yang jauh dari harapan klien itu sendiri. Hal ini terlihat pada kenyataan dimana  klien mengeluh minimnya upaya untuk memenuhi harapan mereka.

Klien pengidap kanker pada umumnya menaruh harapan yang tinggi terhadap pelayanan kesehatan yang diterimanya dan akan memberikan dampak positif terhadap penyakitnya. Namun, ditemukan jumlah klien yang menaruh harapan tinggi sama besarnya dengan jumlah klien yang menyatakan memiliki harapan yang rendah terhadap pelayanan yang diterimanya. Hal ini menunjukan bahwa kondisi penyakit yang diidap klien tidak memiliki kepastian akan hasil pelayanan yang diterimanya. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil riset temuan John (2001) yang menjelaskan klien penerima terapi radiologik yang bersifat kuratif memiliki harapan tinggi terhadap dampak pelayanan yang diterimanya.

Ini menunjukan klien yang mengatakan keberadaan keluarga sangat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya  memiliki harapan terhadap pelayanan yang tinggi, sedikit lebih rendah dari pada klien yang memiliki harapan pelayanan yang rendah (49%:51%). Hasil ini menunjukan harapan pelayanan tidak dapat mempertimbangkan keberadaan keluarga sebagai aspek yang mempengaruhi harapan terhadap pelayanan.

Ada sebuah data yang menyampaikan kesimpulan dari penelitianya mengenai kualiatas hidup pasien kanker dengan perawatan hospice care menunjukan bahwa persentase kapasitas fungsional responden baik secara fisiologis, psikologis, sosial, maupun spiritual masih rendah yaitu dibawah 50%.

Dukungan dan keberadaan keluarga memegang peranan penting dan sangat diperlukan oleh seseorang pengidap kanker dalam menjalani sisa-sisa hidupnya. Klien pengidap kanker  menyatakan harapan yang tinggi terhadap pelayanan kesehatan sama besarnya dengan yang menyatakan harapan yang rendah. Harapan klien terhadap model asuhan dan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien pengidap kanker adalah hospis home care.
DIAMBIL DARI BERBAGAI SUMBER

Selasa, 13 Maret 2012

Penyediaan air bersih (Komunitas I Kesling)


  1.   Pengertian

Air merupakan zat cair yang dinamis bergerak dan mengalir melalui siklus hidrologi yang abadi. Siklus tersebut adalah pertama, penguapan dari laut ke udara sebanyak 502.800 km3 dan penguapan dari daratan sebanyak 74.200 km3 per tahun. Kemudian kedua, curah hujan (yang berasal dari penguapan air dari laut dan darat , yang jatuh ke laut sebanyak 458.000 km3 dan ke daratan 119.000 km3 per tahun. Ketiga, air daratan berjumlah 44.800 km3 terbagi menjadi 42.700 km3 mengalir di permukaan tanah dan 2,100 km3 mengalir di dalam tanah selanjutnya semua berkumpul di laut.
Dalam UU RI No.7 Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002, disebutkan beberapa pengertian terkait dengan air, yaitu sebagai berikut :
- Sumber daya air adalah air, dan daya air yang terkandung didalamnya.
- Air adalah semua air yang terdapat pada diatas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam  pengertian ini air permukaan.
- Air Bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak
- Air Minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum
- Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah.
- Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah.
- Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, diatas, ataupun di bawah permukaan tanah.
Dalam referensi lain disebutkan bahwa air adalah adalah zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi.
3.2 Manfaat Air Bersih
Kebutuhan makhluk hidup akan air tak bisa dipisahkan. Tanpa air, makhluk hidup di muka bumi ini akan mati. Bagi tubuh manusia, air merupakan salah satu zat gizi makro yang sangat penting. Air berfungsi/bermanfaat sebagai sumber asupan mineral, mengatur suhu tubuh, pembentuk sel, dan melancarkan pencernaan. Setiap hari, rata-rata manusia memerlukan asupan air sebanyak 2 (dua) liter. Melalui sebuah riset diketahui bahwa kekurangan 1-2 persen air saja bisa menyebabkan gangguan fungsi otak seperti kkurangnya konsentrasi dan kemampuan berpikir. Kekurangan air di atas 2 persen, tubuh bisa mengalami sakit kepala, letih, lemah, gangguan pergerakan otot hingga kematian. Kurang minum air juga dapat mengakibatkan sejumlah penyakit, diantaranya gangguan ginjal dan infeksi saluran kemih. Perempuan paling rentan terkena infeksi saluran kemih tersebut, karena saluran kemih perempuan lebih pendek dari laki-laki. Semakin pendek saluran kemih, semakin mudah pula bakteri masuk dan menempel pada daerah tersebut. Sehingga, kalau rata-rata konsumsi air yang disarankan adalah 2 liter sehari, perempuan harus minum lebih banyak lagi dari ukuran tersebut. Banyak minum air akan membantu bakteri keluar dari saluran kemih dan mengurangi resiko terkena infeksi. Penggunaan air untuk mandi, cuci, kakus (MCK) juga penting diperhatikan. Seseorang bisa terkena penyakit kulit, diare, keracunan, dan meninggal akibat penggunaan air tercemar. Riset WHO pada tahun 2006 menunjukkan dalam satu dekade terakhir, rata-rata 50.000 orang meninggal per hari karena penyakit yang berkaitan dengan air tak bersih. Hal ini dapat kita lihat air yang berada di Sungai Siak. Air inidigunakan oleh penduduk sekitarnya untuk segala hal mulai dari untuk minum, memasak, mandi dan mencuci. Semuanya menggunakan air sungai ini. Kita takut akibat buruk terjadi pada masyarakat pengguna air Sungai Siak tersebut. Masyarakat secara umum sedikit banyak pasti menggunakan air sungai, apalagi yang tinggal di tepian sungai. Dalam hal ini, sebaiknya pemerintah melakukan pemantauan terhadap keberadaan air sungai. Kini andalan air minum bagi manusia adalah mata air yang terdapat jauh di dalam tanah, yang tidak terkontaminasi pencemaran. Air juga merupakan sumber kehidupan, tidak ada satupun makhluk hidup dapat bertahan tanpa air karena air memang selalu dibutuhkan dimanapun-kapanpun-siapapun. Sebagai sumber kehidupan sudah selayaknya kita MENJAGA KELESTARIA AIR sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada anak cucu. Jangan sampai ketika saatnya tiba, justru anak cucu kita malah tidak bisa menikmati keberadaan air karena tingkah polah hidup kita yang kurang menghargai air. Sebenarnya, ada banyak upayayang bisa kita lakukan untuk membuat air bersih terus mengalir dan mencukupi kebutuhan hidup kita. Tak sulit bagi kita untuk melestarikan keberadaan air sampai kapanpun, asalkan kita mempunyai komitmen yang kuat untuk tetap menjaga dan melestarikannya. Jika kita perhatikan maka tidak bisa tidak bahwa manakala di suatu tempat kita melihat ada tanaman atau tumbuhan maka di situ pasti ada air, oleh karenanya tanamlah sekalipun hanya sebatang pohon untuk melestarikan keberadaan air. Bumi tempat kita berpijak ini 70 persen wilayahnya terdiri dari air, kehidupan umat manusia kini justru terancam karena terbatasnya air bersih yang bisa dikonsumsi. Air bersih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan kebersihan badan serta manfaat lainnya. Ketika air di bumi jumlahnya makin terbatas untuk dipergunakan, maka air laut belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena desalinisasi air laut masih terlalu mahal. Untuk itu, mari kita berhemat menggunakan air dan menjaga sumber-sumber air dengan selayaknya. Tanamlah pohon untuk membantu menjaga kelestarian air.

Air Bekerja Dengan Ajaib
Bila Anda minum banyak air bersih dan jernih, maka hal tersebut akan memacu peningkatan kesehatan Anda, di mana para peneliti menemukan bahwa, makin hari makin banyak keuntungan dengan minum air dalam jumlah yang cukup bagi kesehatan, termasuk:
Pencernaan dan metabolisme yang lebih baik. Minum air dalam jumlah yang cukup menjadikan baik pencernaan maupun metabolisme dapat bekerja pada kapasitas maksimalnya. Faktanya, penelitian terbaru dari University of Utah menyatakan bahwa kekurangan air dapat menyebabkan menurunnya metabolisme. 
Memperbaiki kemampuan dan daya tahan tubuh
Anda akan mampu bekerja lebih keras/berat bila mendapatkan air yang cukup. Sebagai tambahan, air dapat memperkuat daya tahan tubuh Anda. Karena air dapat menaikkan simpanan glycogen, suatu bentuk dari karbohidrat yang tersimpan dalam otot dan digunakan sebagai energi saat Anda bekerja. 
Tahan lapar
Rasa lapar kadang merupakan penyamaran dari rasa haus. Sewaktu anda mengalami dehidrasi (kekurangan air) Anda mungkin merasa ingin makan padahal yang Anda butuhkan sebenarnya adalah air. Anda juga dapat memanfaatkan efek rasa kenyang dari minum air untuk
mencegah makan berlebihan.
Mengurangi resiko terhadap beberapa macam penyakit
Para peneliti saat ini meyakini bahwa cairan atau tepatnya air dapat berperan aktif dalam mengurangi resiko terhadap beberapa penyakit seperti: batu ginjal, kanker saluran kencing, kanker kandung kemih, dan kanker usus besar (colon). Minum cukup air dapat pula menghindari sembelit.
Senjata ampuh melawan masuk angin atau pilek
Antibodi dalam lendir yang melapisi kerongkongan berfungsi untuk menjerat virus pilek. Daya tahan ini akan melemah apabila Anda dehidrasi (kekurangan air) karena akan menyebabkan lendir mengering. Sebagai catatan banyak ahli kesehatan merekomendasikan air sebagai ekspektoran yang efektif untuk mengurangi batuk.
Pelembab wajah paling ampuh
Dengan minum banyak air membantu kulit Anda tetap kenyal dan kencang serta mengurangi garis-garis dan kerut pada wajah.Menangkal rasa letih akibat melakukan perjalanan
Udara panas dapat menyebabkan Anda dehidrasi dan akan menimbulkan rasa letih pada saat dan setelah perjalanan. Minumlah banyak air sebelum melakukan perjalanan dan satu gelas tiap jam perjalanan Anda.
Mengatasi migrain/sakit kepala
Para peneliti menyatakan bahwa dehidrasi dapat mengakibatkan migrain/sakit kepala, jadi bila Anda sering mengalami migrain adalah sangat penting untuk minum air dalam jumlah yang cukup.
Sedangkan Fungsi Air yang utama adalah :
1. Membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel yang rusa
2. Melarutkan dan membawa nutrisi-nutrisi, oksigen dan hormon ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan
3. Melarutkan dan mengeluarkan sampah-sampah dan racun dari dalam tubuh kita
4. Katalisator dalam metabolisme tubuh
5. Pelumas bagi sendi-sendi
6. Menstabilkan suhu tubuh
7. Meredam benturan bagi organ vital
Dengan menggunakan air secukupnya khususnya minum, tubuh kita akan selalu segar dan kesehatan tetap terjaga.
3.3 Syarat air bersih                             
Mengutip Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.
Air bersih disini kita kategorikan hanya untuk yang layak dikonsumsi, bukan layak untuk digunakan sebagai penunjang aktifitas seperti untuk MCK. Karena standar air yang digunakan untuk konsumsi jelas lebih tinggi dari pada untuk keperluan selain dikonsumsi. Ada beberapa persyaratan yang perlu diketahui mengenai kualitas air tersebut baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi.
1. Syarat fisik, antara lain:
a. Air harus bersih dan tidak keruh
b. Tidak berwarna apapun
c. Tidak berasa apapun
d. Tidak berbau apaun
e. Suhu antara 10-25 C (sejuk)
f. Tidak meninggalkan endapan
2. Syarat kimiawi, antara lain:
a. Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun
b. Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan
c. Cukup yodium
d. pH air antara 6,5 – 9,2
3. Syarat mikrobiologi, antara lain:
Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.
Seperti kita ketahui jika standar mutu air sudah diatas standar atau sesuai dengan standar tersebut maka yang terjadi adalah akan menentukan besar kecilnya investasi dalam pengadaan air bersih tersebut, baik instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat untuk membayar harga jual air bersih. Dalam penyediaan air bersih yang layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat banyak mengutip Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan kualitas, yaitu:
a. Aman dan higienis.
b. Baik dan layak minum.
c. Tersedia dalam jumlah yang cukup.
d. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat
Parameter yang ada digunakan untuk metode dalam proses perlakuan, operasi dan biaya. Parameter air yang penting ialah parameter fisik, kimia, biologis dan radiologis yaitu sebagai berikut:
Parameter Air Bersih secara Fisika
1. Kekeruhan
2. Warna
3. Rasa & bau
4. Endapan
5. Temperatur
Parameter Air Bersih secara Kimia
1. Organik, antara lain: karbohidrat, minyak/ lemak/gemuk, pestisida, fenol, protein, deterjen, dll.
2. Anorganik, antara lain: kesadahan, klorida, logam berat, nitrogen, pH, fosfor,belerang, bahan-bahan beracun.
3. Gas-gas, antara lain: hidrogen sulfida, metan, oksigen.
Parameter Air Bersih secara Biologi
1. Bakteri
2. Binatang
3. Tumbuh-tumbuhan
4. Protista
5. Virus
Parameter Air Bersih secara Radiologi
1. Konduktivitas atau daya hantar
2. Pesistivitas
3. PTT atau TDS (Kemampuan air bersih untuk menghantarkan arus listrik)
Dengan standar tersebut maka air konsumsi yang kita gunakan akan aman bagi kesehatan.
3.4 Kondisi Air di Indonesia
Kondisi Air di Indonesia tidak terlepas dari kondisi air secara global. Secara hidrologis memang kita diuntungkan dengan kondisi curah hujan yang tinggi, namun kondisi ini tidak bisa diandalkan mengingat air merupakan bagian dari lingkungan yang keberadaanya cukup terancam saat ini. Ancaman kekurangan air didunia jelas masih nyata, National Geographic memperkirakan hingga 2025 diperkirakan 1,8 milyar orang akan hidup di daerah langka air.
Persebaran sumber daya air (SDA) di Indonesia tidak merata. Walaupun kita memiliki cadangan yang cukup besar sekitar 2350 Kilometer Kubik (No 5 di dunia), namun jumlah ini lebih banyak tersebar di bagian barat. Dan bagian timur merupakan daerah yang rawan terhadap kekeringan. Dengan demikian, permasalahan kekeringan masih mengancam Indonesia untuk beberapa waktu ke depan, mengingat belum adanya jaminan pasokan air di semua tempat secara merata.
Di Indonesia, daerah dengan kondisi cadangan airnya cukup krisis adalah daerah NTT, indeks perkapitanya 1600 m3 perkapita/tahun dan ini menunjukkan padahal daerah indeks perkapitanya di bawah 2000 m3 perkapita/tahun berarti itu sudah mengalami stress area dari sisi penyediaan airnya. Dan pulau Jawa yang mengalami krisis air paling parah ada di bagian timur dan selatan pulau Jawa. Oleh karena itu, menjelang musim kemarau tahun ini, Indonesia harus waspada terhadap kekeringan dan kekurangan pasokan air.
Secara umum kondisi sumber daya air dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), hidrologi dan sumber air, penggunaan air dalam kondisi normal, tingkat efisiensi penggunaan air, kualitas, dan aspek-aspek sosial ekonomi, kelembagaan dan pengaturan (hukum). Di Indonesia, kondisi air hampir dapat dikatakan kritis, dengan berbagai permasalahan yang dihadapi
Kerusakan kondisi air di Indonesia dapat ditinjau dari dua sisi. Kerusakan pertama, kerusakan secara Kerusakan yang lebih parah adalah kerusakan dari sisi kualitas. Penurunan kualitas air hampir terjadi di setiap DAS, sebagai dampak dari perubahan penggunaan lahan (landuse) maupun dampak dari aktivitas kehidupan manusia. Aktivitas yang memberikan dampak besar pada tingkat pencemaran air adalah Industri. Limbah Industri yang dibuang ke aliran DAS, pada umumnya masih standar limbah. Hal ini dapat terjadi karena kurang ketatnya pengawasan pemerintah terhadap aktivitas Industri, atau kurang sadarnya para pelaku Industri dalam memperhatikan lingkungan.
Ada banyak hal yang menjadi penyebab kerusakan kondisi air. Di perkotaan, salah satu faktor yang dominan adalah urbanisasi.
Sesungguhnya Negara kita menyimpan potensi sumber daya air yang besar, jika dilihat dari kondisi hidrologisnya. Curah hujan di Indonesia rata-rata 3500-4000 mm/tahun, walau sebagian daerah ada yang 800 mm/tahun. Jika sumber air hujan ini dimanfaatkan secara optimal, dengan tidak membiarkan air hujan menjadi air permukaan yang melintas begitu saja, tetapi bisa ditampung dan dimanfaatkan dengan baik, maka kekurangan bisa dihindari. Bahkan tidak terjadi sama sekali.
3.5 Penyakit yang Disebabkan oleh Air 
Air yang telah tercemar oleh bakteri penyebab berbagai penyakit, dapat menularkan kepada manusia atau hewan melalui empat mekanisme:  
a. Water Borne Disease  
Mekanisme penyebaran penyakit dimana pathogen penyebab penyakit berada dalam air yang telah tercemar dan dapat menyebabkan penyakit infeksi bila terminum oleh manusia atau hewan. Hal ini karena air tersebut mengandung kuman pathogen. Diantara penyakit- penyakit yang disebarkan dengan mekanisme ini adalah penyakit kolera, tifoid, hepatitis A, disentri, poliomyelitis, dan diare.  
Menurut Slamet (2002) penyakit yang disebabkan oleh pathogen penyebab penyakit berada dalam air yang telah tercemar adalah :  
1.      Kolera  
Penyakit kolera disebabkan oleh Vibrio cholera. Kolera adalah penyakit usus halus yang akut dan berat, sering mewabah yang mengakibatkan kematian. Gejala utamanya adalah muntaber, dehidrasi dan kolaps dapat terjadi dengan cepat. Sedangkan gejala kolera yang khas adalah tinja yang menyerupai air cucian beras, tetapi sangat jarang ditemui. 
2.      Tifoid  
Tifoid merupakan penyakit yang menyerang usus halus, penyebabnya adalah Salmonella typhi. Gejala utama adalah panas yang terus menerus dengan taraf kesadaran yang menurun, terjadi rata-rata dua minggu. Penularan dapat terjadi dari orang ke orang, atau tidak langsung lewat makanan, minuman yang terkontaminasi bakteri.  
3.       Hepatitis A  
Hepatitis A dikenal juga sebagai Hepatitis infectiosa, disebabkan oleh Virus hepatitis A. Gejala utama adalah demam yang akut, dengan perasaan mual dan muntah, hati membengkak, dan sclera mata menjadi kuning, diikuti oleh icterius seluruh kulit. Penyakit ini dapat menyebar secara langsung dari orang ke orang, secara tak langsung lewat air, makanan yang terkontaminasi virus, dan lewat udara.  
4.      Poliomyelitis  
Penyakit ini seringkali disebut “Polio” saja ataupun dikenal sebagai kelumpuhan anak- anak. Polio disebabkan oleh virus. Polio meninggalkan cacat, menyebar lewat lingkungan air yang tidak saniter. Gejala polio sangat bervariasi, dapat sangat ringan, menyerupai penyakit influenza, sampai keadaan kelumpuhan ringan, parah, dan kematian.  
5.       Diare 
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di
seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). 
Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.  
Menurut USAID yang menjadi penyebab diare adalah:  
a. Infeksi dari berbagai bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air minum.  
b. Infeksi berbagai macam virus.  
c. Alergi makanan, khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu)  
d. Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor.  
b. Water Washed Disease  
Mekanisme penyebaran penyakit bila suatu penyakit infeksi dapat dicegah dengan memperbanyak volume pemakaian air serta memperbaiki hygiene perorangan. Dengan terjaminnya kebersihan oleh tersedianya air yang cukup, maka penyakit- penyakit tertentu dapat dikurangi penularannya pada manusia, dan penyakit ini banyak terjadi di daerah tropis. Contoh penyakit yang disebabkan adalah penyakit infeksi saluran pencernaan, penyakit infeksi kulit dan selaput lendir, penyakit yang ditimbulkan oleh insekta pada kulit dan selaput lendir.  
c. Water Based Disease  
Cara penyebaran penyakit ini terjadi bila sebagian siklus hidup penyebab penyakit memerlukan hospes perantara seperti siput air. Infeksi pada manusia dapat dicegah dengan menurunkan keinginan dengan kontak dengan air, mengontrol populasi siput air, dan memperbaiki kualitas air. Contoh penyakit yang disebabkan adalah Schistomiasis. Dimana larva schistosoma hidup dalam keong - keong air. Setelah waktunya larva ini mengubah bentuk menjadi cercaria dan menembus kulit (kaki) manusia yang berada dalam air tersebut.  
d. Insect Vector Disease  
Cara penyebaran berkaitan dengan serangga sebagai vektor penyebaran pathogen penyebab penyakit yang hidup di air. Strategi pencegahan penyebaran penyakit dapat melalui perbaikan pengelolaan air permukaan, menghilangkan tempat- tempat perkembangbiakan serangga yang menjadi vektor penyebaran penyakit infeksi. Contoh- contoh penyakit yang ditularkan melalui vektor yang hidupnya bergantung pada air misalnya malaria, demam berdarah, filariasis, Yellow fever, dan lain sebagainya. 
3.6 Isue Air Bersih di Indonesia 
Secara umum pelayanan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas aliran air minum diperkotaan cenderung bermasalah. Hal ini tentu bukan tanpa sebab.  
Indikasi :
Masyarakat masih ada yang tidak mendapatkan pelayanan air bersih sebagaimana mestinya terutama di daerah kawasan padat penduduk dan kumuh dengan tingkat ekonomi yang masih di bawah rata-rata. Masyarakat mendapat air bersih dengan cara membeli dari tukang air keliling yang harganya tentu lebih mahal apabila menjadi pelanggan PAM.   
Indikator :                 
1. Benyaknya masyarakat yang masih menggunakan air bukan hasil pengolahan atau membeli  lewat pihak ke-3. 
2. Banyaknya jaringan air yang bersih yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  
3. Banyaknya keluhan yang disampaikan pelanggan kepada pengelola air bersih atas kualitas, kuantitas dan kontinuitas aliran air. 
Penyebab :  
1.      Perubahan alokasi lahan yang tidak sesuai dengan Perencanaan Tata Ruang Kota yang yang telah disahkan baik lewat Perda maupun Undang-undang. 
2.      Lemahnya sistem hukum yang tidak bisa menjerat bagi pelanggar yang tidak melaksanakan Rencana Tata Ruang Kota. 
3.       Rencana Tata Ruang Kota yang ada tidak di publish secara umum sehingga hanya sebagian masyarakat yang mengetahui. 
4.      Tidak mengikut sertakan peran aktif masyarakat secara umum baik dalam perencanaan maupun dalam implementasi Rencana Umum Tata Ruang Kota.   
5.      Populasi jumlah penduduk bertambah baik secara natural (jumlah kelahiran tinggi) atau pertambahan penduduk akibat arus urbanisasi dari desa ke kota yang tidak diimbangi dengan jumlah kapasitas air bersih hasil pengolahan. 
6.      Keterbatasan jumlah air baku baik secara kualitas maupun kuantitas. 
7.      Air baku yang ada mengalami pencemaran sehingga mengurangi jumlah air baku yang bisa diolah. Perkembangan ekonomi yang pesat di perkotaan menuntut jumlah air bersih lebih banyak baik bagi golongan domestik (perumahan warga) maupun industri.   
8.      Semakin mahalnya biaya investasi, operasional  dan maintenance penyediaan dan pengolahan air bersih sehingga beban yang ditanggung masyarkat semakin besar sementara tidak semua masyarakat mampu membayarnya. 
9.      Kurangnya dukungan pemerintah dari sisi investasi dalam peningkatan infrastruktur jaringan air bersih. 
10.  Pertambahan jumlah penduduk akibat urbanisasi sebagian besar bertempat di daerah-daerah yang tidak mempunyai syarat administrasi atau liar sehingga tidak mungkin pengelola air bersih menjadikan daerah atau kelompok ini menjadi pelanggannya. minum. 
11.  Kelemahan manajemen dan operasional dalam pengelolaan dan penyediaan air bersih. 
 * Banyaknya pipa yang bocor dan tidak akuratnya meter air akibat kurangnya pemeliharaan atau pencurian air bersih oleh oknum.  
* Kapasitas produksi yang rendah sehingga distribusi air bersih menjadi terbatas.  
 * Lemahnya SDM yang ada sehingga operasional menjadi tidak efektif dan efisien. 
Solusi :  
1. Perencanaan Tata Ruang Kota yang baik dan benar akan menyederhanakan dan melokalisir permasalahan yang muncul. 
2. Implementasi dari RUTRK dengan disiplin dan konsisten sehingga memudahkan operasional dan pemeliharaan oleh Perusahaan Air Bersih sehingga biaya menjadi lebih murah dan masyarakat tidak menanggung beban terlalu berat dengan tarif yang lebih murah. 
 Suasana pedesaan di belakang sekolah
 3. Memperketat terbitnya Surat Ijin Mendirikan Bangunan yang tidak sesuai dengan RUTRK. 
4. Memperkuat penegakan hukum bagi warga atau perusahaan yang melanggar RUTRK. 
5. Mengumumkan secara luas dan melibatkan peran aktif masyarakat dimulai dari perencanaan awal, implementasi sampai dengan pengawasannya. 
6.Pemerataan pembangunan dan pusat-pusat ekonomi sehingga mencegah adanya penumpukan penduduk pada suatu daerah, hal ini untuk mengimbangi keterbatasan sumber air baku yang ada.
 7. Memperkuat manajemen Perusahaan Pengelola Air Bersih. 
8. Dalam jangka pendek perlu adanya program shortcut untuk mengatasi permasalahan air bersih yang ada pada suatu daerah. Salah satunya dengan program CSR (Corporate Social Responsibility), seperti adanya tanki air, kios air atau meter induk (hal ini akan ditampilkan pada lain kesempatan.   
Peningkatan jumlah penduduk diikuti peningkatan berbagai kebutuhan hidup, tak hanya memicu  eksploitasi sumber daya alam  namun juga menambah jenis dan kualitas bahan buangan itu  selama ini dibuang? Ke tanah dan badan-badan air! Karena itu tidak usah heran kalau kualitas air sungai  sekarang ini sudah menyerupai air limbah. Akhir-akhir ini berita tentang pencemaran  sungai maupum air tanah  sudah sering muncul baik dimedia cetak  maupun elektronik.

Sebagai contoh beberapa berita yang biasa dilihat untuk mengambarkan kualitas sumber air  yang ada di Indonesia saat ini,pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan 33 Propinsi tahun 2004 dengan frekwensi pengambilan sampel sebanyak dua kali  dalam setahun.

Hasil pemantauan parameter DO, BOD, COD, fecal coli dan total coliform mayoritas sudah tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I menurut PP 82 Tahun 2001. Untuk parameter biologi fecal coli dan total coliform dapat dikatakan bahwa mayoritas sungai yang terdapat di kota pada penduduk seperti di pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri tersebut, seperti sungai progo (Jateng dan Yogyakarta), Sungai Ciliwung (Jakarta), sungai citarum (Jawa Barat) sungai kali Nabire (Papua), dan sungai Kali APO ( Kodya Jayapura ) Papua dan sungai-sungai yang lain di Indonesia, kualitas air sumur di Papua menurun drastic.  

Saat ini, hampir semua sumur penduduk sudah tercemari oleh bakteri Coli yang merugikan kesehatan manusia Bakteri Coli itu sendiri dipastikan berasal dari kotoran manusia (tinja) yang meresap kedalam air sumur. Proses peresapan tinja  kedalam air sumur terjadi karena jarak antara tempat pembuangan (septic tank) dengan sumur sangat berdekatan. Penelitian yang di lakukan pada beberapa wilayah Papua menunjukkan kandungan bakteri Coli pada air sumur penduduk sudah melebihi ambang batas dan terus mengalami peningkatan, dengan kandungan bankteri Coli antara 400-2.000 per milliliter air. 
Kegiatan industri yang selama ini menjadi sorotan utama penyebab turunya kualitas sumber air mungkin perlu dipertanyakan lagi, sebab dari kondisi yang digambarkan diatas, tampaknya justru limbah domestic dalam hal ini  adalah limbah rumah tangga mempunyai potensi pencemar yang tidak biasa dianggap enteng. Di daerah perkotaan orang membuang limbah rumah tangga ke saluran drainase dan sungai. 
Sementara di daerah pedesaan limbah dibuang ke pekarangan atau sungai. Kondisi ini diperparah dengan sisa penggunaan pestisida dan  sejenisnya (B3) yang berlebihan pada aktivitas pertanian dan kegiatan lainnya yang kemudian mengalir ke sungai. Keadaan ini pada akhirnya akan menurunkan kualitas air permukaan maupun air tanah.  
Disisi lain sumber-sumber air untuk memenuhi kebutuhan tersebut semakin langkah  atau mengalami kemerosotan, baik jumlah maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan krisis air diberbagai daerah. Bahkan saking terbatasnya ketersediaan air, untuk memenuhui kebutuhan, kualitas air sudah tidak menjadi perioritas utama. 
Pengelolaan sumber daya air yang menyeluruh mutlak diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. Menyeluruh dalam arti pengelolaan dari daerah hulu, daerah aliran sungai dan daerah hilir menyangkut pemanfaatannya. Tentunya ini memerlukan koordinasi antar lembaga dan disiplin ilmu, sudah bukan jamannya pengelolaan sumber daya air masih bersifat kedaerahan, namun harus mengacu pada basis wilayah sungai. 
Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sumberdaya air perlu dilakukan keterpaduan pengelolaan meliputi; koordinasi dan kolaborasi antar instansi pada multi sektor dan multi level dalam penyusunan kebijakan dan program, penggunaan saling menunjang antara air tanah dan air permukaan dengan mengutamakan penggunaan air permukaan, konservasi dan rehabilitasi lingkungan sumber daya air, meningkatkan perang masyarakat, pakar, dan pengguna air dalam pengelolaan sumberdaya air. Mampukah kita mewujudkannya. 
Air sebagai aset kehidupan perlu dijaga sebagai wujud kecintaan terhadap kehidupan. Pemanfaatan air yang tidak terarah menimbulkan bencana bagi kehidupan. Kolaborasi antar disiplin ilmu dan lembaga akan memberikan sinergi yang saling memberi manfaat sehingga kepentingan terhadap air yang saling berseberangan dapat dihindarkan.